Kota Solo sedang menggelar acara SIPA. Sebuah acara kebudayaan yang termasuk tingkat International. Berangkat menuju pagelaran SIPA, dari daerah Fajar Indah, kami sekeluarga sudah bisa menyaksikan lampu spot light yang indah berputar putar menerangi langit yang cerah tanpa mendung, membuat kami tidak sabar untuk segera sampai ke Mangkunegaran.

Suasana sangat ramai, mencari parkirpun sangat sulit. Suara video dari SIPA sudah terdengar meskipun kami masih di area parkir. Setelah kami mendapatkan kursi, ternyata acara tidak tepat dimulai jam 7 malam. Kami masih menunggu sembari makan bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Tak lama dari itu seseorang dari panitia mendatangi kami, pada kartu yang tergantung dilehernya bertuliskan Liaison Officer, yang pada akhirnya saya mengetahui itu adalah LO. Dia membagikan kepada penonton yang masing-masing mendapat 1 buah kembang api.

Acara pembukaan SIPA ini dimeriahkan dengan adanya kembang api. Cuaca yang cerah membuat suasana menjadi indah.
Ibu Irawati Kusumorasri adalah Ketua Panitia SIPA. SIPA adalah singkatan dari Solo International Performing Art. Panggung SIPA ini berlatar belakang Benteng Kavalerie-Artelerie pada tahun 1874. Acara SIPA memilih tempat untuk tampil di Mangkunegaran karena mempunyai nilai heritage (sejarah) yang tinggi. Iklan SIPA menggambarkan sosok seorang wanita yang bernama Dewi Sri karena sebagai tanda kesuburan masyarakat agraris dan seorang Ibu dari petani atau padi untuk menghalaukan hama atau ular sawah dan mantra-mantra kesuburan. Tema yang digunakan SIPA pada tahun ini adalah Kesenian Rakyat dan Kehidupan Alam. SIPA menampilkan beberapa tarian dari berbagai daerah yang berjumlah 15 delegasi diantaranya adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, juga dari luar negeri.
Pembukaan SIPA diiringi dengan lagu yang menyambut Dewi Sri. Dewi Sri diangkut oeh 4 pria berbadan kekar dan menggunakan baju merah, dan dari panggung terlihat gadis-gadis yang membawa tampah yang berjumlah 15 orang. Keluarlah asap yang berasal dari panggung untuk menyambut kedatangan Dewi Sri. Tokoh Dewi Sri ini diperankan oleh Sruti Respati.
Prosesi pembukaan SIPA yaitu tari Wargo Budoyo adalah tari yang berasal dari Magelang. Tari ini merupakan tari pembuka, tari ini terlihat sangat indah sekali. Apalagi ketika anak anak menari dengan lincah, kami sekeluarga sangat menikmati tari ini. Gladiator Gunung yang dibawakan adalah tarian yang menceritakan tentang kehidupan gunung. Tarian Wargo Budoyo yang berasal dari Magelang. Bunyi cring cring karena kencring yang diikat pada kaki mereka membuat ramai suasana.
Melihat acara SIPA ini kami perhatikan sangat indah sekali, tak kalah indahnya yaitu panggungnya. Panggung belakang ditutup kain tipis sehingga lampu memantulkan cahaya yang apik.

Selanjutnya penampilan dari pemain dari Austria menyanyikan lagu dengan alat musik folk yang terdengar seperti lagu perjuangan. Mungkin jika tarian dilihat dari atas terlihat seperti bunga, kadang terlihat seperti gir mesin yang sambung menyambung dan saling mengisi. Tangan mereka saling bersilang-silang, mereka menggunakan sepatu lars panjang dan rompi hitam putih
Penarinya ada yang tua dan ada yang muda, tarian mereka saling susup menyusup, meskipun tariannya terlihat rumit tetapi tangan mereka tidak terlepas dari gandengan penari lainnya. Para penonton juga bertepuk tangan mengiringi alunan musik folk dengan bertepuk tangan.
Inilah laporan SIPA oleh Michellea Andayalin
Beberapa sumber diambil dari Seni BudayaTimlo.net